Menu

Saturday, 13 April 2019

#STJ2019_098 - KEMBARA MENCARI HAKIKI (Balasan Puisi Khodeok Imoeut)

FENOMENA PUISI SI TAKLUK JAGAT

(Balasan Puisi Khodeok Imoeut)

Image may contain: plant and nature

# SEMPURNAMU MENCARIK PAHALA #



Aku tidak ingin menitipkan pesan pada nabastala malam
Sedang gelinjang subuh pun berpeluhan kesejukkan

Aku tak ingin mengucapkan salam pada pagi nan mengudap surya
selalunya ranting itu sunyi kala cendrawasih bertengger di ruang hati

Aku takut

Sejujur bening kasih di semenanjung rasa
Hatikupun tak ingin berkelah

Duhai rasa,
Ini dusta atau nista
Kala setiap bayangmu mampu mengurung mindaku memutar aksara hanya tentangmu

Haruskah aku

Kabar itu datangnya dari seberang sana
Menceritakan warni kekupu di atas kelopak bunga
Sendu sayap menebar racun cinta
Dan aku terperdaya

Kau rona,sang pengelana rasa
Adakah cumbu yang tertinggal di sudut yang tak kau beri arti
Hingga aku terus berbaring dalam kata rindu
Lemas,berpangku kecup yang kau semat di langit biru

Teruslah pangku aku,hingga lelapku di dadamu
Biar mentari berlalu
Tinggalkan genang rasaku basahi jiwaku

Berurutan retina menatap kekarmu
Saat kau papah aku menuju altar pembaringan suci
Berbujur janji satu untuk kau dan aku
Selama berpeluk setia dihati 

Kusudahi retina nan basu
agar kau pergi jauhkan segala lara dan tak kan kembali kembara
Sempurna kerja asmara yang kau pupuk mencarik pahala

Loncatan hati:06-04-2019


KEMBARA MENCARI HAKIKI


(Balasan Puisi Khodeok Imoeut)

Aku bertanya kepada gugus rasi bintang Waluku 

Tentang galaunya hati dan tentang sengsara rindu
Semilir desir bayu yang lalu berbisik menitipkan salam
Terdengar merdu syairmu disenandungkan nabastala malam


Indah kepakan cenderawasih sudah tidakku pedulikan lagi
Cukuplah cuma raut wajahnya yang menghiasi episod mimpi
Biarlah kelam subuh bertemankan dingin embun yang menengger di daunan
Asalkan jiwa kita senantiasa hangat dalam dakapan alam yang setia menghiburkan

Dan malam ini aku masih berbaring di sini bersendirian
Berbumbungkan langit dan berlantaikan pepasir gurun yang kontang
Menghayati seri bias purnama sebagai lampu alam di kelam gelita
Dan cahaya gemintang seperti kunang-kunang yang berkerlipan bagaikan suluh pelita

Aku menurut sahaja liku-liku jalan taqdirku yang telah terukir
Teruskan kembara hingga ke hembus nafasku yang paling akhir
Atau sahaja menantikan saat tiba waktu ditiupNya sangkakala
Sebagai petanda besar di penghujungnya usia dunia yang semakin renta

Dalam remang sinar rembulan terdengar Waluku menjawab sapa
Sejahtera untukmu juga Si Takluk Jagat sang pengelana rasa
Jangan dikejutkan rindu yang bersemayam di antara sela lipatan sanubari
Kerana kita hanyalah pengembara yang mencari cinta di lubuk alam hakiki

Nukilan: Si Takluk Jagat
08 April 2019

**Nabastala (Sanskerta) - langit

No comments:

Post a Comment